Selasa, 28 Juni 2011

Telur Asin

Bapak/iu yang terhormat, berikut ini artikel yang bertautan dengan telur asin, semoga bermampaat,

“Membuat Telor Asin”

Bahan :
10 Butir Telor Bebek
10 Sdm Garam Dapur
1000 ml Air

Cara Membuat :

1. Bersihkan telor bebek dengan di gosok / disikat hingga bersih pilih telor yang betul-betul bagus.

2. Siapkan Wadah Tupperware untuk menyimpan / memeram telor bebek ( Dengan menggunakan SIngle Deco ).

3. Tuangkan air kedalam wadah Single Deci lalu masukan garam dan aduk rata, sehingga menjadi larutan air garam.

4. Masukan telor bebek yang sudah bersih kedalam larutan tersebut.

5. Tutup rapat wadah, lalu simpan ditempat yang kering.

6. Untuk telor dengan kadar keasinan rendah disimpan 1 minggu saja, untuk keasingan sedang disimpan selama 2 minggu dan bila ingin sampai “Masir” ( kuning telor sampai keluar minyaknya ) disimpan sampai 3 minggu Selanjutnya telor bisa direbus atau di bikin masakan lain


Selamat Mencoba …. !!

Tips :

1. Cara memilih telor yang baik, letakan telor didalam air bila tenggelam berarti bagus.

2. Dengan menggunakan Tupperware membuat telor asin tanpa abu gosok / bubuk batubata dan lebih gampang dan hasilnya … lembut dan lebih uuueeeenakk….

(Arum Wijayanti – Semarang).

Rela Melepas Pekerjaan demi Usaha Telur Asin

Oleh
Saufat Endrawan

Bandung-Heno Taryana adalah orang yang sangat beruntung. Niatnya untuk menekuni usaha hanya coba-coba, tapi pada akhirnya ia menuai sukses. Ia mampu menjadi pengusaha telur asin yang berhasil di Bandung, yang notabene bukan sentra produsen telur asin.

Bakat wirausaha yang diwarisi dari orang tuanya begitu kuat. Pekerjaannya sebagai staf produksi di pabrik tekstil di Bandung ditinggalkannya demi melanjutkan usaha telur asin yang dirintis orang tuanya. Tekadnya terutama ingin memajukan usaha keluarga, di samping ia merasa tidak cukup bila hanya mengandalkan ijazah SMA-nya saja untuk membangun masa depan keluarganya.
Tepatnya, pada tahun 1997 ia mulai menghidupkan kembali usaha telur asin milik orang tuanya. Usaha itu konon nyaris tidak beroperasi karena sulitnya mendapatkan pinjaman, juga sulitnya mendapat telur bebek dari peternak serta bahan dasar lainnya.
Heno memulai usahanya dengan modal pesangon dari perusahaan sebesar Rp 200.000. Awalnya, dengan kemampuan yang ada, Heno hanya sanggup memproduksi telur asin sebanyak 30 butir. Namun, berkat keuletan dan ketabahannya untuk mengembangkan usaha, akhirnya per hari Heno mampu memproduksi telur asin sebanyak 1.000 hingga 1.500 butir, tergantung ketersediaan telur bebek di pihak para peternak.
Dari lima bersaudara, hanya Heno yang meneruskan usaha keluarganya. Ini karena sejak kecil, dialah yang selalu mendampingi dan membantu kedua orang tuanya dalam proses pembuatan dan pemasaran telur asin ke berbagai pasar yang ada di Bandung. Heno kini memiliki seorang anak laki-laki, Muiz Ilma Tarmizi (4,5) dari hasil pernikahannya dengan Yanti Hanifah (25).
Saat dijumpai SH, Jumat (4/1) siang, di kediamannya yang setengah bangunannya dijadikan tempat untuk memproduksi telur asin di Jalan Sekar Wangi RT 01/01 Kp Sekar Wangi Desa Sekarwangi, Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung, Heno memaparkan awal upayanya merintis kembali usaha telur asin.
Upayanya merintis kembali usaha yang berlabel Telor Asin Lancar, yang telah ditinggalkan kedua orang tuanya itu, antara lain juga karena orang tuanya telah berusia lanjut. Produksi awalnya hanya 10 hingga 30 butir telur saja per hari. Ia menjualnya hanya kepada warung-warung terdekat di rumahnya. Kemudian, karena jumlah permintaan setiap harinya semakin besar, produksi terus ditingkatkan hingga akhirnya kini mencapai 1.000 hingga 1.500 butir per hari.
Telur asin yang diproduksinya kini untuk memenuhi permintaan dari pasar-pasar besar di Kota Bandung dan sekitarnya, seperti Pasar Dulatif, Andr, Ciroyom, serta beberapa pasar yang ada di kabupaten. Malahan, ada pula beberapa langganan yang memesan khusus untuk dibawa ke luar negeri seperti ke Australia. Mereka rutin membawa telur asin produksinya, sebab selain pulen karena berminyak di bagian kuningnya, juga tidak terlalu asin. Telur asin yang diproduksinya bisa bertahan hingga 15 hari. Hal ini karena cara pengelolaannya harus apik.
“Telur asin kami bisa bertahan lama hingga 15 hari, karena kami mencari kualitas telur bebek yang bagus dari para pengangon yang selalu mencari tempat di mana ada sawah yang sedang dipanen, di situlah bebek-bebek mereka disebar. Selain itu, kualitas garam dan abu juga harus baik, agar hasilnya menjadi telur asin yang super,” kata Heno.
Heno kini telah mampu mempekerjakan enam karyawan, yang berasal dari lingkungan keluarganya serta dua tenaga lepas yang diambil dari tetangga terdekatnya. Sedangkan label yang ditempelkan di telur asin produksinya, namanya pemberian dari almarhumah ibunya. Menurut Heno, ibunya memberikan label “Telor Asin Lancar” pada telurnya dengan harapan produksi telur asin anaknya bisa terus lancar hingga turun-temurun.
Heno menjelaskan keuntungan dari memproduksi telur asin tidak terlalu besar, karena dari telur bebek mentah yang dibelinya per butir seharga Rp 650 untuk ukuran kecil dan Rp 700 untuk ukuran besar per butirnya. Rata-rata per butirnya hanya mendapatkan keuntungan sekitar Rp 300, keuntungan tersebut belum dipotong biaya produksi dan gaji karyawan.
Heno mengakui, untuk ukuran telur asin berukuran besar per butirnya dijual ke pelanggan Rp 1.000, untuk ukuran kecil Rp 900. Saat ini usahanya sudah mulai keteteran untuk mendapatkan telur bebek mentah, abu dan garam, karena harganya kian hari kian melonjak. Selain itu, untuk mengukus telur asin yang sudah di-peuyeum (diperam) selama 9-12 hari dengan dibalut adonan abu mengandung garam, sudah tidak lagi menggunakan minyak tanah, tapi menggunakan kayu bakar. “Jika masih menggunakan minyak tanah, biaya operasional kami habis tersedot. Sedangkan harga telur asin di pasaran sulit dinaikkan karena persaingannya sangat ketat,” tutur dia.
Untuk membuat telur asin berkualitas super, diawali dengan melakukan ketrek atau memilih telur yang bagus. Untuk produksinya, dengan cara mendapatkan telur bebek, ia mengejar di mana terdapat pengangon bebek biasanya, mencari tempat-tempat di mana ada daearah yang sedang panen. Terkadang, untuk mendapatkan telor tersebut kami sudah mengontrak pengangon dengan membayar uang terlebih dahulu. Misanya untuk 1.000 telur kami membayar uang dimuka, sehari kemudian dan selanjutnya kami mengejar penganggon tersebut. Karena telur bebek hasil anggon lebih baik kualitasnya daripada telur bebek ternak.
Untuk membuat telur asin sebanyak 1.500 butir dibutuhkan bahan dasarnya 30 kg abu dari pembakaran kulit padi, serta 10 kg garam kasar. Abu dan garam ditambah air diaduk hingga menjadi seperti adonan tanah liat. Setelah itu satu per satu telur dibungkus adonan, kemudian di simpan atau diperam selama 9 hingga 12 hari. Satelah selesai di-peuyeum kemudia dicuci hingga bersih, dan direbus hingga empat jam. Proses pembuatan tersebut rata-rata sekitar 10 persen hasilnya tidak sempurna karena mengalami pecah dan retak-retak. Tapi, telur asin yang retak masih saja bisa dijual dengan harga yang mutah atau ditukar dengan telur bebek yang mentah atau barter dengan bahan dasar pembuatan telur asin seperti garam di pasar.
Dari hasil wirausaha yang digelutinya selama 10 tahun ini, selain telah mampu membeli tanah dan bangunan yang luasnya tujuh tumbak dan sekarang ini ditempati untuk rumah tinggal dan perusahannya. Selain itu, kini juga telah mampu membeli beberapa unit kendaran roda dua untuk membawa telur asin produksinya ke pasar. Dia juga telah memeliki sebanyak 170 ekor bebek yang pemeliharaannya dipercayakan kepada pengangon bebek. “Saya beli bebek agar sewaktu-waktu bila telor dari pengangon sulit didapat, masih ada cadangan telor dara bebek peliharaan saya,” cetus dia.
Kini yang dibutuhkan oleh Heno agar usahanya tetap berjalan adalah suntikan dana, baik dari pemerintah maupun dari perbankan. Sebab, jika tidak ada suntikan modal maka usahanya berjalan apa adanya. Modal yang dimiliknya terkadang tidak berputar karena mengendap di para pengangon. Jika bebek-bebeknya tidak bertelur akibat tidak ada sawah yang panen, uang tersebut mengendap di mereka.
Pernah, tiga tahun yang lalu ia mendapatkan suntikan dana Rp 2 juta dari salah satu perusahaan obat-obatan, namun semakin berkembangnya zaman, modal pun harus ditambah. Selain itu, ia juga pernah mendapatkan bantuan berbentuk peralatan dari Pemkab Bandung berupa teknologi tepat guna (TTG), tempat untuk pengasinan dari bahan dasar stainlessteel yang menampung 1.000 butir telur.
Namun hasilnya tidak bagus. Sebab, alat itu membuat telur-telur retak dan daya serap garamnya tidak maksimal. Karena, sistemnya telur direbus dengan air garam, sedangkan cara yang baik untuk membuat telur asin adalah dengan cara konvensional, bukan dengan cara modern. “Hingga kini alatnya tidak kami pakai dan masih tersimpan di gudang,” jelas Heno. n

Telur Asin Aneka Rasa

Biasanya, orang mengidentikkan telur bebek dengan rasa asin. Tapi, KSM Aneka Rasa di Kelurahan Pasir Gintung justru bisa membuat telur bebek beragam rasa. Adalah Robby, seorang anggota BKM Pasir Gintung yang pertama kali menggagas ide cemerlang tersebut. Awalnya muncul pikiran “nakal” di benaknya, bagaimana jika telur bebek itu tidak hanya berasa asin, melainkan rasa buah-buahan? Lalu, ia dan rekan-rekannya mencoba membuat telur asin aneka rasa. Setelah mencoba berkali-kali, akhirnya mereka memberanikan diri mengadakan pelatihan kepada warga sekitar.

Pada 2 Maret 2007 dibentuklah KSM Aneka Rasa guna mewadahi anggota dan menjamin kelangsungan kegiatannya. KSM yang diketuai oleh Rusdi dan beranggotakan Ali Citra, Satria, Faqih, dan Harry ini lalu mengajukan usulan kegiatan pelatihan pengembangan keterampilan pembuatan Telur Asin Aneka Rasa. Proposal yang diajukan mendapatkan respon cukup bagus dari BKM dan masyarakat. Bahkan, beberapa warga tidak sabar untuk segera mengikutinya.

Pelatihan yang dimulai pada April 2007 itu diikuti oleh 38 peserta, terdiri dari 21 orang perempuan dan 17 orang laki-laki. Dana pelatihan yang diajukan dan disetujui dalam proposal adalah Rp 3,5 juta, ditambah swadaya sebesar Rp 750.000. Seluruh dana tersebut digunakan untuk membeli bahan baku dan peralatan yang diperlukan. Seluruhnya dibeli dari pasar tradisional di Kota Tanjung Karang. Bertindak sebagai instruktur pelatihan adalah sang koordinator BKM Robby, dibantu oleh Faqih, salah seorang anggota KSM.

Dalam pelatihan tersebut berbagai percobaan untuk mengekstrak telur asin dengan rasa jeruk, rasa mangga, rasa strawberry, durian, melon dan udang pun dijalankan. Proses pembuatan telur ini cukup mudah, karena hanya dilakukan dalam tiga tahapan. Pertama, pembuatan telur asin. Kedua, pengolahan buah-buahan yang akan dijadikan sebagai pemberi rasa. Ketiga, proses ekstraksi (pemberian rasa pada telur asin).

Mula-mula telur bebek dibersihkan dengan ampelas agar kulit telur licin dan menipis, supaya rasa aneka buah mudah meresap ke dalamnya. Selanjutnya telur dilumuri abu gosok yang sudah dicampur air dan garam, lalu disimpan di dalam tempat tertutup selama 1 – 2 minggu agar rasanya terasa. Setelah itu telur dibersihkan dengan air sabun. Jika perlu disikat hingga bersih, lalu dibilas dengan air.

Tahap kedua adalah menyiapkan buah-buahan yang akan dijadikan sebagai pemberi rasa pada telur bebek. Setelah dibersihkan (kecuali jeruk) semua buah-buahan dipotong kecil-kecil dan dimasukkan ke blender, dengan tambahan gula putih dan air secukupnya. Karena proses ekstraksi dilakukan dengan menggunakan alat suntik, maka penggilingan buah-buahan itu dilakukan hingga tiga kali, agar didapatkan saripati yang benar-benar halus. Hasilnya kemudian disaring hingga dua kali penyaringan, agar tidak tertinggal butiran sekecil apapun, karena lubang jarum suntik yang digunakan sangat kecil, sehingga berpotensi mampat.

Tahap ketiga adalah proses pemberian rasa telur asin dengan mengekstrak buah-buahan ke dalam telur asin. Pertama dibuat dua lubang di tengah bagian atas telur bebek. Lubang satu untuk memasukkan sari buahnya dan lubang lainnya sebagai jalan keluarnya putih telur. Selanjutnya, jarum yang sudah diberi sari buah-buahan tadi disuntikkan ke salah satu lubang yang sudah dibuat, hingga mencapai kuning telur. Setelah itu lubang ditutup dengan isolasi (cellotape), kemudian di kocok agar sarinya menyebar ke semua bagian telur.

Nah, terakhir telur yang sudah diberi rasa buah-buahan atau udang tersebut dimasukkan ke dalam air panas yang telah diberi air santan, dan direbus selama 45 – 60 menit. Jangan lupa, pemberian air santan dilakukan setelah air mulai panas, tapi tidak sampai mendidih. Tujuannya adalah menghilangkan bau amis telur. “Ternyata cukup mudah, dan kami mendukung penuh pengembangan kegiatan ini,” tegas Lurah Pasir Gintung Joko Pratikyo di sela-sela pelatihan.

Diliput berbagai Stasiun Televisi

KSM Aneka Rasa tidak berhenti berkreasi meski pelatihan telah selesai. Dengan difasilitasi langsung oleh koordinator BKMnya, 30 orang peserta pelatihan pengolahan telor asin aneka rasa diorientasikan produktivitasnya kepada semua pihak. Lima di antaranya melanjutkan dengan memproduksi telur asin aneka rasa, memanfaatkan modal awal dari swadaya masing-masing anggota sebesar Rp 300.000, dan alat yang sudah dibeli dari dana pelatihan.

Dari modal awal itu, KSM Aneka Rasa kini mampu memproduksi telur asin aneka rasa hingga 5.000 butir. Hingga kini KSM tersebut terus melipatgandakan produksinya tanpa memikirkan keuntungan terlebih dahulu, karena masih fokus pada upaya pemenuhan pesanan para pelanggan. Salah satu hal yang memotivasi dan diharapkan oleh para anggota KSM ini adalah kepercayaan dari masyarakat dan dukungan pemerintah.

Gayung pun bersambut. Walikota meminta KSM Aneka Rasa mengikuti acara Walikota Fair yang diadakan oleh Pemerintahan Kota Bandar Lampung. Bahkan mereka disediakan gerai khusus untuk memamerkan hasil-hasil karyanya selama berpartisipasi sebagai KSM dalam PNPM-P2KP. Usai mengikuti pameran, KSM Aneka Rasa tak henti-hentinya diliput oleh media, termasuk beberapa stasiun televisi nasional seperti adalah Indosiar, Trans TV, Anteve, Metro, TPI dan televisi lokal (TV Lampung).

Hal ini semakin memotivasi KSM Aneka Rasa untuk terus berkembang dan terus bereksperimen agar hasil produksinya tetap menjadi konsumsi yang digandrungi berbagai kalangan, baik orang tua, remaja maupun anak-anak. Hingga akhirnya timbul ide baru untuk menjadikan telur asin sebagai camilan dengan sambal saos. Bahkan, kini tengah digagas keripik yang berasal dari batang pisang (gedebog) sebagai teman telur asin aneka rasa.

Butuh Dukungan Pemerintah dan Kelompok Peduli

Karena rasanya berbeda dengan telur asin biasa, mulailah mengalir pesanan dari berbagai kalangan dan berbagai event. Di dalam mengembangkan usaha baru, sudah barang tentu muncul berbagai masalah yang dirasakan. Tidak terkecuali, KSM Aneka Rasa yang menemui kendala, antara lain, kurangnya modal guna menambah kapasitas produksi, karena kewalahan dengan banyaknya pesanan.

Lalu, sulitnya mendapatkan bahan baku, seperti telur bebek dan buah-buahan penambah rasa, karena hingga kini bahan-bahan tersebut masih dibeli di pasar tradisional di sekitar Kelurahan Pasir Gintung. Meski demikian, untuk bahan buah stroberi, KSM sudah bermitra dengan petani stroberi yang berlokasi di Lembang Jawa Barat.

Lebih lanjut, belum ada surat izin resmi dari Departemen Kesehatan, sehingga KSM masih takut mempromosikan hasil produksinya lebih luas.

Selain itu, peralatan masih sederhana, sehingga produksinya terbatas. Sebenarnya ada propinsi lain yang mengajak bermitra terkait peralatan yang lebih moderen, tetapi hal itu masih sedang dalam pembicaraan

KSM Aneka Rasa membutuhkan perhatian pemerintah setempat untuk mengatasi masalah ini. BKM diharapkan dapat lebih berperan dalam menjaring channel agar KSM dapat bermitra dengan peternak bebek atau penghasil bahan baku yang dibutuhkan, terutama yang berlokasi di Propinsi Lampung agar bisa saling bekerjasama dan menguntungkan (simbiosa mutualisme).

Bukankah dukungan pemerintah dan kelompok peduli setempat akan memotivasi KSM-KSM untuk saling bermitra dan meningkatkan produktivitasnya? Pada gilirannya kemiskinan hanya dapat ditanggulangi secara kolektif oleh berbagai pihak yang difasilitasi oleh pemerintah. (Tim USK Sosialisasi P2KP-3/KMW XI P2KP-3 Lampung; Nina)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar